
SEJARAH DESA KEDUNGWARU LOR
Berawal tahun 1800-an terdapat suatu wilayah tepi sungai yang luas, wilayah tersebut dijadikan persinggahan kapal-kapal. Saat itu dipimpin seorang lurah yang bernama Patheh pager gedhe wongso. Pada suatu hari datanglah seorang pendekar wanita Nyi Mentrik pasukan Diponegoro yang melarikan diri, naik kuda menelusuri sungai Serang dan bersinggah diwilayah itu.
Dan ada seorang lagi bernama Ki Citro menggunakan perahu disungai Serang yang singgah diwilayah itu. Dan akhirnya mereka bertemu dan memutuskan untuk tinggal diwilayah itu. Ki Cirtro menjadi tokoh masyarakat dan menjadi Demang yang bergelar KI DEMANG MANGUN YUDHO.
Pada suatu ketika Ki Citro beristirahat dekat tambatan perahu yang rusak , tidak jauh dari situ dijumpai seekor buaya yang terhimpit diantara pohon waru dimuara sungai yang dalam (kedung). Dan Ki Citro menolong buaya yang terjepit tersebut.
Berdasarkan keajian tersebut, daerah itu dinamakan kedungwaru diambil dari peristiwa terjepitnya buaya di kedung dan pohon yang menjepitnya adalah pohon waru disebelah lor.
Maka Desa tersebut dinamakan Desa Kedungwari Lor.
Pada tanggal 14 Juli 2019 di Desa Kedungwaru Lor dilaksanakan apitan dengan menggelar kesenian Wayang Kulit dengan judul “DEWI SRI”. Sebagai perwujudan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Rejeki dan Hidayah-Nya kepada warga Desa Kedungwaru Lor Kecamatan karanganyar Kabupaten Demak.
Yang dihadiri oleh Camat Karanganyar (SUGIANTO, S.IP.MM) Kepala Desa Kedungwaru Lor (Karsumo), Sekdes (SUDIGJO) tokoh masyarakat dan warga Desa Kedungwaru Lor.


















